Oleh Sunaryono Basuki Ks

Sudahkah kau mendengar kisah tentang seorang lelaki yang dikutuk menjadi batu bersama perahu dan segala isinya? Ketika Oedipus dilahirkan, orang tuanya mengirim orang untuk bertanya kepada Orakel Dephi, yang menjawab dengan jujur tentang masa depan.

“Berhati-hatilah. Anak ini kelak akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya.”
Maka, ayah yang bijak menyuruh orang membunuhnya agar bencana tak bakal terjadi. Namun, que sera sera, apa yang bakal terjadi terjadilah. Si bayi yang berwajah lembut itu diselundupkan keluar kerajaan oleh pesuruh yang tak tega harus melaksanakan perintah membunuh bayi tak berdosa.

Maka jadilah Oedipus pemuda yang merasa punya orang tua yang harus diabdi, kedua orang tua angkat yang tak sedarah dengannya. Lelaki muda yang berhati lembut itupun pergi ke Orakel Dephi dan bertanya:

“Wahai yang bijaksana, yang mengetahui tentang apa yang akan terjadi, katakanlah padaku tentang nasibku di masa yang akan datang.”

“Pemuda yang gagah perkasa, berhati-hatilah, dan dengarkan baik-baik kata-kataku ini. Engkau akan membunuh ayahmu dan mengawini ibumu.”

“Duh, Gusti, alangkah laknat anak ini, menyudahi hidup ayahnya sendiri, dan Duh Gusti, haruskah aku menjalani nasib yang nista, yang menjijikkan dengan mengawini ibuku sendiri. Tidak! Aku harus menghindari itu semua!”

Maka, tanpa mengucap pamit Oedipus lari meninggalkan negeri yang disangka negerinya. Di tengah perjalanan dia bertengkar dengan seorang lelaki yang menunggang kuda, membunuhnya, dan bertemu dengan Sphinx yang ditaklukkannya, dan disambut rakyat Thebes, jadilah dia raja baru dan mewarisi Sang Ratu yang ayu. Semua itu sudah kau dengar, dan tentang lelaki yang tak peduli tentang nasibnya di masa depan sehingga dikutuk menjadi batu, kau pun pasti sudah mendengar kisahnya.

Tetapi inilah kisah tentang lelaki yang meninggalkan negerinya, mengembara ke negeri jauh sebagai awak kapal dan kemudian kembali sebagai raja kapal yang kaya raya. Pulang ke desa dia menyembah ibunya yang tua renta dan miskin, serta memperkenalkannya pada seorang putri yang dibawanya dari negeri China.

“Inilah ibuku,” katanya, membimbing tangan istrinya, “Bersujudlah ke ujung kakinya. Dialah perempuan yang mempertaruhkan jiwanya melahirkan diriku, menumpahkan darah di tanah kelahiranku ini.”

Lalu, putri ayu mencium kaki ibu mertuanya yang penuh debu, mengharap restu dan kasih seorang ibu.

“Anakku,” katanya dengan suara gemetar, “siapakah perempuan yang kau bawa pulang ini?”

“Dia adalah istriku, Ibu, seorang putri bangsawan dari negeri China,” katanya dengan bangga.

Perempuan itu matanya sudah rabun, dipandangnya perempuan ayu yang bersimpuh di depannya, rambutnya lebat hitam, terurai sampai ke pinggang.

“Duh, anakku,” kata perempuan itu. “Kenapa kau tak minta izinku?”

“Kenapa Ibu? Tidakkah Ibu berkenan menerima putri ayu ini? Adakah cacatnya, wataknya. Lihatlah alangkah lemah lembutnya dia. Kata-katanya pun tiada ada celanya.”

“Berani-beraninya kau melanggar adat kita, wahai anakku.”
“Adat yang manakah yang tak kuturuti, ya, Ibu?”
“Tidakkah pernah kukatakan padamu tentang pantangan yang sudah diwariskan oleh raja-raja kita? Tidakkah kau dengar kisah raja Jawa yang jatuh pamornya lantaran menikah dengan putri pujaannya yang adalah saudara tuanya? Kita ini bangsa muda, anakku, harus menghormati leluhur kita jauh di sana. Tulang-belulang kita belumlah kuat, tak sebanding dengan tulang istrimu. Akan hancurlah percampuran yang tak setara itu, sebab engkau menggagahi saudari tuamu sendiri.”

“Ampunilah anakmu ini, ya Ibu. Doakanlah agar kutukan itu tak terjadi pada kami. Kami berniat suci untuk membina keluarga yang Ibu restui. Restuilah kami agar kami dapat meneruskan garis keluarga yang sementara berhenti pada tegak hamba ini.”

Perempuan tua itu memegang kedua bahu putri ayu kemudian dengan suara gemetar berkata: “Bangunlah anakku. Tegaklah pada kedua belah kakimu dan pandanglah perempuan tua ini.”

Dengan patuh putri ayu tegak menatap wajah perempuan tua itu yang telah keriput, rambutnya yang jarang sudah berwarna putih tak bercampur hitam. Di mata perempuan itu putri ayu melihat mata ibunya, yang berlinangkan air mata. Di mata itu pula terbayang wajah ayahnya yang dengan pandangan bengis melepaskan kepergiannya bersama lelaki yang dicintainya itu.

“Kalau engkau pergi, pergilah, dan jangan sekali-kali kembali menginjakkan kaki di negeri ini. Pergilah jauh bersama ombak, dan engkau akan selamanya dihempas ombak yang datang dari tengah laut, memandang jauh ke utara, memimpikan negeri yang telah kau tinggalkan, yang tak mungkin kau rengkuh kembali. Pergilah sampai halilintar nanti bergelegar dan langit terbelah mewartakan amarah para leluhurmu. Tunggulah saatnya sampai kau tak lagi dapat mengingat masa lalumu karena hatimu sudah menjadi batu bersama tangan dan tubuhmu.”

Alangkah kejamnya kutukan yang telah diucapkan oleh ayahnya, dan kutukan itu makin menyata di mata perempuan tua yang sekarang menjadi ibu mertuanya, seolah dia mampu menyaksikannya datang makin dekat ke arah perahu batu yang dihempas air laut di pantai dilepas sebuah pura yang terletak di sebuah bukit batu.

Tubuhnya bergetar melihat kedua belah mata perempuan tua itu yang menampilkan batu karang memanjang yang selalu dihempas ombak, seolah sebuah perahu yang tiang-tiang utamanya telah patah. Di mata itu dia juga melihat badai, dan perahu yang terombang-ambing oleng dalam ayunan ombak yang tak henti-hentinya menerpa.

“Tabahlah, anakku. Bagaimanapun juga, kau adalah anakku, sudah menjadi anakku sendiri, dan apa yang sudah terjadi memang harus dilakoni. Kutukan dan hukuman tak bisa dielak tetapi bisa dimohon untuk tak semena-mena menghancurkan raga dan jiwa kita. Marilah ikut ibu memohon kepada Hyang Gusti Kang Murbeng Dumadi, Gusti yang memulai menghamparkan langit dan bumi bagi kita semua. Tiada kekuatan satu pun yang dapat menandingi kekuatan-Nya yang tak terbatas, sebab manusia hanyalah ciptaan-Nya yang hanya mencoba menyamai-Nya namun mustahil dapat menjadi kekuatan yang maha raksasa. Marilah menundukkan kepala kita, ya anakku, memohon kepada-Nya agar kutuk itu diperingan dan tak sampai menghancurkan kebahagiaanmu bersama suami dan kelak bersama anak-anakmu.”

Lalu, mereka pun pergi ke tepi laut, dan perempuan itu duduk tepekur di pasir pantai.

“Kumpulkanlah lidi dan ranting-ranting kecil, buah ceri dan ketela pelepah pisang bawalah kemari,” katanya, sementara anak dan menantunya pergi melaksanakan permintaan perempuan tua itu.

Lalu, dari lidi, ranting, dan pelepah pisang perempuan tua itu membangun sebuah perahu kecil, lengkap dengan tiang utama dan layar yang disobekkan dari bajunya. Di atas perahu dinaikkan seorang pelaut yang tubuhnya dibuat dari ketela dan kepalanya dari buah ceri. Lalu, mereka bertiga mendekat ke air laut.

“Layarkanlah perahu ini, anakku,” katanya. “Kalian berdua, layarkanlah dia.”
Mereka berdua berpegangan tangan dan melayarkan perahu kecil itu yang pelahan dihempas kecipak ombak kecil.

Tiba-tiba langit diselimuti awan gelap yang menyungkup langit dan petir sambar-menyambar. Perahu yang mulai bergerak ke tengah itu dalam kilatan petir nampak membesar dan membesar, dan akhirnya sebuah perahu sempurna lengkap dengan tiang utama dan layar yang masih tak sempat diturunkan, oleng diterjang badai ombak. Terdengar angin dari arah utara seolah teriakan lelaki yang sedang marah, dalam aum gemuruh badai menggila. Hujan deras mengguyur sekujur badan perahu, dan terakhir kilat utama menyambar perahu, mematahkan tiang utama dan menjatuhkan layar yang tak sempat terkembang ke air laut. Dan perahu yang oleng dalam cahaya kilat dalam gelap itu berubah menjadi batu, terbujur memanjang dan terdampar di pantai di depan pura yang berdiri kokoh di bukit batu, membatu bersama penumpangnya.

Ketika badai reda dan langit terang kembali, matahari menyinari batu karang yang terbujur memanjang, seolah sebuah perahu yang telah membatu.

“Itulah perahu yang menjalani kutuk itu. Suara ayahmu yang murka telah hilang ditiup angin, kembali ke arah utara.”

Perempuan tua itu tetap bersimpuh di atas pasir. Putri ayu memegangi tubuhnya yang lesu agar tak jatuh menyentuh batu-batu tajam di pantai itu. Lelaki gagah itu duduk bersila menghaturkan sembah ke langit, bersyukur karena perahu kecil itu sudah berubah menjadi batu dan perahunya sendiri selamat memuat harga oleh-oleh untuk orang sekampung.

“Kasih sayang Ibu telah menyelamatkan kami berdua. Terima kasih kami, ya Ibunda. Tidak ada yang lebih mulia dari hati seorang ibu, dan Ibu telah memberikan kemuliaan itu kepada kami berdua. Sekarang, izinkanlah kami mengemban amanat ayahanda untuk meneruskan alir darah yang sementara berhenti di tubuhku ini.”

Perempuan itu membuka matanya dan mencoba duduk dengan punggung tegak.

“Syukurilah peristiwa hari ini, anakku,” katanya dengan suara lemah.
“Ya, Ibu. Kami bersyukur dapat lepas dari kutuk dan siksa,” kata mereka berdua.
Masih dengan suara lemah, perempuan itu melontarkan kata-kata yang menggetarkan jiwa mereka.
“Tapi ini bukan akhir kisahnya, anakku. Masih ada yang akan tiba, yang lebih dahsyat, yang harus kamu tanggung berdua.”
“Duh, Ibu, apalagi yang akan menimpa diri kami?”
“Itulah yang aku tak tahu,” kata perempuan tua itu.
“Tak mungkinkah kami dihindarkan sekali lagi dari malapetaka?”
Perempuan itu memandang mereka dengan matanya yang tak lagi menangkap cahaya muka kedua anaknya.

“Telah terkuras tenagaku, sudah tak kuasa aku menyalurkan daya ke atas dunia fana ini. Tempatku adalah para-para cahaya, tak lagi di atas batu padas dan pasir pantai. Lihatlah ke atas awan dan akan terlihat gemintang yang berkedip. Salah satu di antaranya adalah ibu, yang selalu melihatmu di kala malam, mengenang hari-hari yang sudah lewat, yang selalu merindukanmu.”

Dan perempuan tua itu memejamkan matanya buat selama-lamanya meninggalkan senyum yang memancarkan kecantikan jiwanya. Lelaki dan putri itu membakar jenazahnya dengan upacara yang layak dan menaburkan abunya ke laut, lalu memanggil kembali arwahnya untuk dibawa masuk ke dalam pura dalem.

Lalu, peristiwa yang lebih dahsyat dari perahu yang berubah menjadi batu, kapankah akan terjadi? Lalu, peristiwa macam apakah yang akan terjadi?

Dari hari ke hari keduanya menunggu peristiwa yang tak dijelaskan bentuk dan waktunya., sampai lahir putra sulung mereka, disusul oleh putri, dan putra lagi, dan putri lagi.

Sampai pada suatu hari, sebuah kapal dari negeri China dengan benderanya kepala naga yang berkibar mendekati pantai di mana mereka berdua tinggal, di kampung yang baru saja tumbuh. Tak ada ombak tak ada angin dan badai, namun kapal itu berhenti jauh agak ke tengah laut. Bererapa buah sekoci diturunkan ke laut, dengan beberapa orang pelaut mengayuh sekoci itu ke pantai.

“Tolonglah kami, Tuan Muda,” kata lelaki itu dalam bahasa China, kepada lelaki yang kini sudah menjadi petani. Lelaki itu dapat mengingat sejumlah kata yang dipungutnya dalam kunjungannya ke negeri istrinya dan menjawabnya dengan sebuah pertanyaan:

“Apa yang harus aku lakukan?”
“Kapal kami terdampar. Tolonglah kami agar kami dapat melanjutkan perjalanan kami kembali.”
“Siapakah tuanmu, ya tamu kami.”
“Kami adalah anak buah Tuan Teh, Tuan muda.”
“Mengapa kalian datang kemari?”
“Kami hanya singgah mencari putri Tuan Teh yang telah melarikan diri dengan seorang pemuda dari negeri jauh. Kami diperintah untuk membawa kembali tuan putri.”
“Apakah dia The Giok Nio?”
“Bagaimanakah Tuan tahu?”
“Akulah suami putrimu, yang telah melahirkan empat orang putra putriku. Akankah kau membawa kembali dia ke negerimu?”
Para pelaut itu menghunus pedangnya bersiap hendak menyerang. Lelaki itu pun menghunus kerisnya, dan para lelaki itu undur sampai kaki mereka masuk ke dalam air laut.

“Lihatlah, hai para tamuku!” kata lelaki itu, kemudian mengacungkan kerisnya tinggi-tinggi. terdengar petir menyambar dan laut mengganas dan ombak menggoncangkan kapal. Tiba-tiba langit cerah kembali dan terdengar suara teriakan dari arah perahu. Terlihat orang memberikan tanda yang mengatakan bahwa kapal mereka tak lagi terdampar.

Para pelaut itu surut, undur dan menghaturkan penghormatan.
“Terima kasih Tuan Muda.”
“Sampaikan pada Tuanmu bahwa sang putri selamat tak suatu apa dan berbahagia dengan suami dan anak-anaknya.”
Mereka memberi hormat dan kembali menuju sekoci yang bergegas dikayuh kembali menuju perahu.

Lelaki itu seolah mendengar bisikan dari Ibu, di langit di antara bintang-bintang. Dengan memejamkan matanya lelaki itu menggumamkan:
“Terima kasih Ibu, telah kau ubah kutuk menjadi perbuatan mulia. Semoga ayah mertuaku dapat menerima kenyataan ini.”
Dan, malam itu, di atas perahu, lelaki itu bersama istri dan empat orang anaknya diundang pesta perjumpaan dengan keluarga yang telah berpisah, jauh dipisahkan oleh lautan.

 

andridugal.wordpress.com

About andri syam febriansyah

SAUDARA SEBOTOL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s